SEA Games 2017

Negara Salah Urus Olahraga

Terpuruk Dalam Sejarah SEAGames

Olahraga  RABU, 06 SEPTEMBER 2017 , 08:34:00 WIB | HARIAN RAKYAT MERDEKA

Negara Salah Urus Olahraga

Presiden Jokowi dan Menpora Imam Nahrawi/Net

RMOL. Prestasi Indonesia di SEAGames 2017 terburuk dalam sejarah. Kita hanya bertengger di peringkat lima dengan raihan 38 emas, 63 perak, dan 90 perunggu. Anggapan negara salah urus olahraga pun bergulir. Bukti nyatanya, soal terhambatnya dana kebutuhan atlet.
"Kita salah urus. Ini sosialis komunis dengan biaya negara sepenuhnya, atau liberalis kapitalis, tidak ada sponsor," kritik pengamat olahraga Fritz Simanjuntak, dalam acara Evaluasi SEAGames XXIX/2017 menuju Asian Games Jakarta-Palembang 2018 di Gedung Dewan Pers Jakarta, kemarin.

Diskusi ini digelar Persatuan Wartawan Indonesia (PWI). Selain Fritz, hadir sebagai pembicara Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima), Ahmad Soetjipto, dan Plt Deputi IV Kemenpora Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Yuni Poerwanti.

Menurut Fritz, Indonesia, tak hanya terpuruk di bidang prestasi. Salah urus bidang olahraga ini juga terlihat dari tertundanya uang saku atlet di SEAGames lalu. Atlet tolak peluru, Eki Febri Ekawati curhat di media sosial belum mendapatkan uang saku dari pemerintah medio Januari-Agustus.

Nah, soal alokasi dana kebutuhan atlet bagi Fritz sangatlah penting. Jangan sampai, atlet terbagi konsentrasi antara bertanding dengan urusan uang. Untuk menyelesaikan permasalahan olahraga di Indonesia. Kata Fritz, harusnya cepat disikapi oleh Menpora.

Dia juga meminta Menpora harus berani ambil diskresi untuk memenuhi kebutuhan para atlet bukan sebuah tindak pidana korupsi. "Pengeluaran untuk olahraga adalah bukan pemborosan, tapi investasi," tegasnya.

Diskusi pun semakin seru begitu mengarah kepada siapa penanggung jawab salah urus olahraga ini. Hingga kini, usulan Satlak Prima, yang bertugas mengurusi atlet elite Merah Putih dibubarkan menggelora. Tapi, Fritz tidak setuju usulan itu. Menurutnya, mengubah struktur organisasi saat Asian Games 2018 makin dekat justru bisa membuat prestasi olahraga kita makin melempem.

Plt Deputi IV Kemenpora Bidang Peningkatan Prestasi Olahraga Yuni Poerwanti mengakui, prosedur pencairan uang pelatnas yang berbelit-belit. Karena itu, bulan depan hingga Desember, pihaknya akan mulai merapikan segala struktur yang ada.

"Begitu dana turun, kami mulai ancang-ancang. Kami harap tidak ada lagi banyak perubahan struktur atau rotasi-rotasi supaya tidak jadi masalah. Kami, Kemenpora, jujur saja malu karena sebelumnya tidak pernah ada kejadian seperti ini, sampai ada pembayaran honor terlambat, peralatan juga tidak ada," akunya.

Secara ksatria, Ketua Satuan Pelaksana Program Indonesia Emas (Satlak Prima), Ahmad Soetjipto mengamini terpuruknya Indonesia di SEA Games 2017 bagian dari kesalahannya. Namun, Kepala Staf TNI Angkatan Laut medio 1999-2001 mengaku ruang gerak Satlak Prima ihwal anggaran sangat terbatas. Hasilnya, tidak maksimal dalam proses persiapan atlet multi event.

Untuk itu, Soetjipto juga mengharapkan agar Satlak Prima menjadi Satker agar masalah keterlambatan honor, pasokan peralatan, akomodasi terlambat yang menjadi penyebab kegagalan Kontingen Indonesia pada SEA Games 2017 bisa teratasi.

"Ibaratkan saya ditunjuk sebagai komandan perang tetapi logistik dipegang orang lain. Jadi, apa yang saya bisa perbuat. Makanya, saya mengusulkan Satlak Prima menjadi Satker agar seluruh program peningkatan prestasi atlet bisa," tegasnya.

Usulan Satker, katanya, mencontoh Panitia penyelenggara Asian Games 2018 (Inasgoc) yang telah dibentuk. "Inasgoc adalah satker yang dipimpin oleh Pak Erick Thohir. Dia bukan pegawai negeri sipil (PNS), tapi bisa mengelola anggaran, bisa memilih pejabat pembuat komitmen (PPK), dan lainnya. Alangkah baiknya jika Satlak Prima sebagai Satker agar bisa kendalikan logistik," harapnya.

Secara teknis, Soetjipto menceritakan para atlet berjuang keras di SEA Games. Namun, kegagalan meraih target 55 medali emas karena berbagai faktor. Misalnya, ada atlet yang tak memandang seluruh lawan sebagai kompetitor utama, jadwal pertandingan yang diubah secara mendadak sehingga atlet yang mengambil dua nomor belum sempat beristirahat, tidak profesionalnya wasit, hingga persiapan atlet yang kurang optimal.

Tapi, Sutjipto mengatakan menurunnya perolehan medali emas Indonesia tidak separah negara lain. "Pada 2017 Indonesia turun 19,14% dari SEA Games 2015. Thailand, dari 95 keping turun 24,21%, lalu Singapura, dari 84 keping dari 32,14%. Sayangnya, kita hanya bisa melihat yang absolutnya, dari perolehan emas dan berapa rangking di klasemen," pungkasnya.

Terpisah, Wakil Presiden JK membenarkan soal salah urus olahraga ini. Kata JK, kegagalan kontingen Indonesia dalam mencapai target 55 medali emas salah satunya disebabkan berbelitnya birokrasi manajemen olahraga di dalam negeri.

"Ini yang terjadi karena kita kebanyakan birokrasi. Jadi yang diurus kebanyakan birokrasi olahraganya ketimbang olahraganya," ujar JK di kantor Wapres, Jakarta, kemarin.

Orang nomor dua di Indonesia itu menegaskan persoalan berbelitnya birokrasi ini harus segera ditangani. Apalagi, Indonesia tahun depan akan menjadi tuan rumah Asian Games 2018. "Sehingga pembicaraan itu olahraga membahas prestasi bukan membahas administrasi prestasi," akunya.

Dibeberkan JK, pihaknya sudah membahas dan mencari solusi ihwal ini dengan Presiden Jokowi dan Menpora Imam Nahrawi. "Kami sudah diskusi untuk segera memperbaiki sistem pelatihan atlet, bagaimana sistem prestasi yang baik untuk tahun depan. Jadi kita sudah ambil beberapa keputusan yang penting," pungkasnya.

Sebelumnya, Menpora telah meminta maaf atas tidak tercapainya target perolehan medali Indonesia di SEA Games 2017. Dia juga akan bertanggung jawab atas kegagalan ini.

"Selain minta maaf barang tentu kami akan melakukan langkah besar, upaya besar, bekerja sama dengan stakeholder olahraga karena ini harga diri bangsa yang harus ditangani serius," ujar Imam, di Kemenpora, Jakarta, Kamis (31/8).

Seperti diketahui, tahun ini adalah SEA Games terburuk bagi kontingan Indonesia. Kita meraih peringkat kelima dengan 38 emas, 63 perak, dan 90 perunggu. Prestasi ini tidak kalah buruk dari tahun 2015 yang juga peringkat kelima dengan 47 emas 61 perak 74 perunggu.

Padahal kita punya sejarah hebat di ajang ini. Sejak 1977-1983, tidak terkalahkan dan menjadi juara umum. Namun, pada 1985 turun ke peringkat dua dan kembali menjadi juara umum medio 1987-1993. Paling hebat, prestasi Merah Putih di SEA Games ketika menjadi tuan rumah tahun 1997 dengan raihan 194 emas, 110 perak, dan 115 perunggu. ***

Komentar Pembaca
Galacticos Cari Momentum

Galacticos Cari Momentum

RABU, 13 DESEMBER 2017

Rem Buat Citizen?

Rem Buat Citizen?

RABU, 13 DESEMBER 2017

Jangan Rombak Pakem 4-3-3

Jangan Rombak Pakem 4-3-3

RABU, 13 DESEMBER 2017

Putra U19 PB Djarum Juara Superliga Junior 2017
Konsentrasi Spurs Bisa Terpecah Belah

Konsentrasi Spurs Bisa Terpecah Belah

SENIN, 11 DESEMBER 2017

Jebolan Madrid Jadi Aktor

Jebolan Madrid Jadi Aktor

SENIN, 11 DESEMBER 2017

Romo Franz Magnis Suseno - Ibu Theresa (Part 4)
Romo Franz Magnis Suseno - Sri Paus Fransiskus (Part 3)
Nekat Terobos Busway

Nekat Terobos Busway

, 10 DESEMBER 2017 , 00:42:00

Membaca <i>Moeslim Choice</i>

Membaca Moeslim Choice

, 10 DESEMBER 2017 , 11:37:00

Aktivis Komtak Dukung Palestina

Aktivis Komtak Dukung Palestina

, 10 DESEMBER 2017 , 11:15:00

Pak Amien Dan Kecebong

Pak Amien Dan Kecebong

Menuju Peradaban10 Desember 2017 18:25

Penanganan Banjir Era Anies Lebih Keren Dari Era Ahok
Jago Selfie Nekat Dari China Dipastikan Tewas
Parisadha Hindu Darma Indonesia: Penolakan Ustadz Somad Di Bali Bukan Soal Agama
Pencalonan Titiek Soeharto Mentok di Jokowi

Pencalonan Titiek Soeharto Mentok di Jokowi

Politik11 Desember 2017 04:03